Malam itu langit penuh dengan bintang berkaelap-kelip, seperti memanggil-manggil seorang gadis bernama vinda. Vinda menatap langit, betapa indahnya malam itu tanpa ada awan hitam yang menyelimuti ribuan bintang di angkasa. Tak seperti dirinya yang selalu murung dalam menghadapi hidup ini. Vinda merasa tak ada yang menyayangi dirinya terutama orang tuanya. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya saja tanpa memikirkan anaknya yang mulai beranjak dewasa.. hembusan angin malam membuat Vinda larut dalam heningnya malam itu. Tak kuasa air mata Vinda untuk mengalir membasahi wajahnya. Dari lubuk hati terdalam , Vinda merasa sangat kesepian.
Dering telepon membuyarkan lamunanya. Sebuah nama tertera dalam layarnya hp nya “fian”. Fian adalah pacar Vinda. Mereka sudah pacaran dari kelas 3 SMP. Mereka pacaran hampir 2 tahun. Vinda langsung mengangkat ponselnya. Terdengar suara lirih mengucapkan “vin, sepertinya kita udah enggak ada kecocokan lagi, sebaiknya kita akhiri aja hubungan kita ini, cukup menjadi teman..”
“ha..?? tapi knapa...??apa alasanmu...?”
“tut...tut...tut...”
Hanya itu yang terdengar dari ponsel vinda. Vinda merasakan luka yang mendalam atas kata-kata yang diucapkan oleh Fian. Di dalam hati Vinda terbesit banyak pertanyaan.
“knapa aku enggak boleh bahagia..?knapa Fian meninggalkan aku gitu saja? Knapa papah mamahku lupa sama aku?apa aku enggak pantas bahagia..?”
Vindapun hanya tersiak dalam keheningan malam di kamarnya.
Paginya Vinda terbangun dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Saat sarapan pagi Vinda tidak melihat kedua orang tuanya duduk di meja makan bersamanya.
“Bi Inah ! papa sama mama pergi kmana?”
“itu non, pagi pagi sekali ibu dan bapak pergi ke Surabaya. Karena ada pekerjaan penting .”
Vinda menganggap kalau dirinya itu tidak penting sama sekali bila dibandingkan dengan pekerjaan orang tuanya. Sampai orang tuanya tidak pernah memberi waktu luang untuk bersama Vinda meski liburan.
Sesampainya di sekolah Vinda menuju kelasnya. dia duduk di barisan paling depan sebangku dengan sahabatnya yang bernama Nindi. Vinda banyak melamun dan hatinya diliputi perasaan tidak enak selama pelajaran berlangsung
“Vin, kamu knapa..?”
“mm..aku lagi bingung nich...prasaanku canggung banget..”
“emang knapa to Vin...? crita ma aku donk..”
“Fian tadi kemaren mutusin aku..”
“ow.. itu, aku sich udah tau...”
“hmm...”
“eh denger-denger Fian udah dapet cewek baru lho, kalo gak salah namanya Bunga”
“wah cpet banget udah dapet lagi,”
“mm.. ya udah vin.. aku mau jajan dulu..”
Bel istirahat pun berbunyi, Vinda hanya menghabiskan waktu seorang diri di kelas dengan bermain hobi kesukaanya, yaitu rubbic.
Yang tak diduga Vinda sebelumnya, ia melihat Fian mantan pacarnya melewati kelasnya dengan menggandeng seorang Bunga yang tak lain adalah teman lesnya sendiri. Betapa sakitnya hati Vinda melihat itu semua. Tak terasa Vinda pun menitihkan air mata. Dia tak menyangka temannya tega menusuknya dari belakang.
Bel masuk pun berbunyi, para siswa kembali ke tempat masing-masing untuk melanjutkan pelajaran. Seorang siswa meneriaki Vinda
“hiii... vinda nangis.... cengeng...”
Dan sluruh kelas pun ikut menyoraki Vinda
“huu...cengeng ...”
Lalu Pak guru datang, “slamat siang anak-anak., lho kamu kenapa vinda..?”
“enggk pak..saya enggak knapa-knapa koq”
“lha kog nangis..?”
Vinda pun terdiam dan Pak guru melanjutkan pelajaran.
Di sela-sela pelajaran, Vinda dan Nindi bercakap-cakap pelan “eh kamu tadi koq nangis knapa sich?”
“aku tadi ngliat fian ama pacar barunya gandengan tangan mesra...banget.., sakit hatiku ini nin..”
“oow..ya kamu yang sabar ja.. jodoh kan ditangan tuhan..”
“iy nin..mkasih”
“iy nin..mkasih”
Sesampainya di rumah, Vinda terkejut sekali melihat bendera kuning berkibar di depan rumahnya. Vinda langsung berlari menuju ke dalam rumahnya. Betapa terkejutnya Vinda melihat kedua orang tuanya pergi meninggalkannya.
Hari-hari Vinda dilalui dengan rasa sedih, kecewa, sakit hati, menyesal.
“ya Allah kenapa engkau berikan cobaan secara bertubi-tubi kepada hambamu yang lemah ini belum sempat aku menghabiskan waktu bersama orang tua ku, tapi Engkau telah mengambilnya. Apa aku memang tak pantas bahagia..?”
Bi Inah pembantu di rumah Vinda mendengar mendengar perkataan Vinda , Bi Inah menangis dan mendekati Vinda.
“sudahlah non, Tuhan itu Maha penyayang dan adil. Tuhan pasti tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan hamba-nya. Saya yakin, non pasti akan menemukan kebahagiaan sejati. Non harus kuat.”
Penderitaan yang dialami Vinda belum berhenti sampai di sini saja. Vinda mendengar kabar kalau perusahaan keluarganya disita oleh Bank termasuk rumah yang ditinggalinya. Vinda bingung harus tinggal di mana karena semua sodaranya tinggal di tempat yang jauh dari rumahnya. Sadis remaja seumur Vinda harus mengalami penderitaan yang tak berkesudahan itu. Bi Inah menyarankan agar tinggal di desa tempat tinggal Bi Inah. Di sana Bi Inah mempunyai satu orang anak perempuan bernama Putri. Vinda menyetujuinya, karena sudah tidak tau lagi mau ke mana.
Di tempat tinggal baru Vinda. Ia mulai bisa melupakan kesedihan dan penderitaan yang slama ini dia rasakan . Di sana dia merasakan kasih sayang seorang ibu dari Bi Inah kasih sayang saudara dan teman dari Putri. Sudah lengkap rasanya kebahagiaan yang Vinda impikan selama ini. Mungkin ini yang ditakdirkan Tuhan untuk dirinya. Tuhan memang Maha penyayang dan adil. Vinda tak akan pernah melupakan kedua orang tuanya. Meski Vinda telah mendapat kebahagiaan setelah kedua orang tuanya tiada
Beberapa minggu tinggal di sana membuat Vinda menjadi lebih mandiri dan berani. Vinda diberi pekerjaan yaitu menjadi buruh tani. Suatu saat, Vinda hendak berangkat memanen hasil panennya. Tiba-tiba ada seorang tukang post mengantarkan surat wasiat milik ibunya yang ditipkan ke pamannya, ternyata surat itu berisi tentang surat hak milik tanah yang diwariskan untuk Vinda, Vinda pun segera memberitahu ke Bi Inah “bi..!! aku dapat tanah bi...!!!” kebetulan sekali, tanah seluas 15x20 itu letaknya tak jauh dari rumah Bi Inah. Vinda memanfaatkan tanah itu sebagai industri pembuatan baju.
Vinda dibantu oleh putri dan 6 pegawai lainnya, meskipun hanya usaha kecil-kecilan, namun itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Vinda, Putri dan Bi Inah.
Usaha Vinda pun sekarang berkembang pesat. Berawal dari modal kecil, menjadi untung yang berlimpah.